Fantasi Thrive Motorcycle “T003 Kaku”

T003 Kaku - Thrive Motorcycle

Imajinasi Masa Kecil Thrive Motorcycle , Jakarta – Indonesia

Awal mula kisah motor ini mungkin terasa klise, Ketika tahun 90-an hampir semua  anak-anak diracuni oleh film animasi Jepang . Hal inilah yang mengawali Putra Agung untuk menuangkan fantasinya soal tokoh kartun dalam bahasa gambar, alih alih menggambar kartun ia lebih suka menerjemakannya dalam ilustrasi konstruksi mekanik. Virus Kamen Rider membayangi setiap goresannya, kesan yang berbeda, bentuk, mesin, suara dan semua fantasi seperti itu memiliki ruang dan waktu yang tak terbatas .

Bertahun-tahun kemudian ia mencoba mewujudkan fantasi masa kecilnya dalam karya motor sesungguhnya. Setelah perkenalan pertamanya dengan suara khas motor British, Putra yang juga salah satu pendiri Thrive motorcycle ingin menemukan harmoni deru suara motor  Inggris dalam motor bermesin Jepang. “keindahan desain bersatu dengan kedalaman suara akan membentuk kesempurnaan sepeda motor yang sebenarnya” ungkapnya.

Pekerjaan ini diawali dengan sketsa teknik, ia mencoba menggambarberulang kali tak jarang rasa putus asa menyergap namun harus terus dilewati, kali ini tanpa referensi atau pengaruh dari mana saja, mencoba berpikir lebih jelas dan menyelami segala imajinasi dan fantasinya. Namun gaya berkendara Kamen Rider selalu muncul dalam gores sketsa, rupanya alam bawah sadar fantasi masa kecil begitu lekat dan tidak dapat dipisahkan dari dirinya.

Selang beberapa lama ia  putuskan untuk mengimplementasikan desain dan campur aduk kisah fantasinya kedalam motor kustom dengan mengusung mesin Yamaha Scorpio 225cc. banyak yang menertawakan wujud dan kekakuan motor ini , tapi tidak sedikit yang memberikan pujian, hal tersebut disikapi dengan dewasa “saya berpendapat sebuah rancangan dan desain selalu menyebabkan diskusi dan omongan , tapi yang terpenting bagi saya adalah keberhasilan membangun persepsi imajiner dalam karya kustom yang saya bangun sendiri “beber putra.

Tidak hanya sekedar puas menerjemahkan fantasi Kamen Rider, Putra menyempatkan menguji ketangguhan motornya melintasi jalanan enam kota, dengan jarak tak kurang dari 600 kilometer untuk mengetahui performa karyanya. Berbagai jenis trek dilalui, termsuk lintasan yang tak lazim dilewati oleh motor apalagi dengan konsep tunggangan Café Racer. Keraguan sempat muncul sebab hampir sembilan puluh persen proses pengerjaan dilakukan dengan pola kerja “handmade” meliputi pembuatan rangka swing-arm dan tangki.

Untungnya kekhawatiran tentang hal hal buruk tidak terjadi , perasaan cemas perlahan-lahan digantikan oleh rasa puas, terbersit senyum kebanggaan, mengendarai motor kustom karya sendiri, menjauh dari hingar bingar kebisingan. melahirkan kegembiraan bagi kawan-kawan dan Thrive motorcycle khususnya, memelihara jiwa dan membebaskan diri dari keramaian Jakarta .

Mengenal Thrive Motorcycle

Tidak ada yang menonjol tentang sejarah Thrive Motorcycle , workshop ini berdiri pada tahun 2011 digawangi oleh lima pemuda yang ingin menghidupkan mimpi ditengah carut marut kehidupan Jakarta. mereka bertemu dan bekerja sama sejak jaman kuliah dimana sebagian besar dari mereka adalah desainer grafis, merancang dan menciptakan karya kustom untuk dipakai sendiri .

Kurang lebih setahun lamanya mereka bertemu dan bekerja dengan motor dimalam hari usai rutinitas kerja sebagai sebuah pengalaman dan masa yang menyenangkan, “setelah lelah dengan segala penat pekerjaan dan omelan klien, kami bisa menghadirkan waktu berkualitas bekerja dengan mesin tua, spareparts, tetesan oli, bekerja dengan berbagai tools yang bisa mebuatmu berdarah dan merasakan sakit, dentum musik rock, bir dingin hingga melibas jalanan ibukota jam dua pagi” ungkap Putra.

Sejak saat itu mereka mencoba untuk menyisihkan upah bulanan untuk membuat ruang kerja yang lebih baik dengan peralatan yang lebih lengkap . Memang terdengar klise dan begitu naif karena pada awalnya mereka hanya ingin membangun bengkel sepeda motor untuk kepetningan pribadi atau teman dekat, hingga suatu ketika seseorang mengatakan kepada mereka “Jika kamu memiliki cukup keahlian dan rasa ,  dijalankan sebagai sebuah bisnis ? mengapa tidak? “.

Dalam menjalankan bsinisnya Thrive Motorcycle memiliki pedoman bahwa mereka adalah Pemikir bukan sekedar serabutan, mencoba melahirkan sesutu dari budaya dan apa yang menjadi pengalaman mereka : fantasi, musik, film dan bahkan sejarah. Pada intinya adalah keinginan melahirkan karya dari apa yang mereka cintai. secara jujur mereka mengakui ketidakahlian mereka dalam hal pekerjaan mesin, namun passion menuntun mereka untuk terus berlajar, memikirkan menghasilkan karya terbaik dari lembaran dan materi logam yang digunakan.

Putra menuturkan pemikiran dasar Thrive Motorcycle “ empat roda dapat menggerakkan tubuh , tapi dua roda bisa menggerakkan jiwa jiwa Anda , kami pikir itu sangat benar . kami bukan seorang ahli , kami hanya ingin berbagi pengalaman mengendarai sepeda motor “kustom” dan bagaimana menggunakannya di kota yang gila ini . Kami ingin membuat tempat ini seperti rumah , kami bekerja pada siang hari , berkumpul bersama teman teman menikmati bir dingin di malam hari, berbicara tentang banyak hal untuk lebih merengkuh kerasnya hidup” .

Indonesian Kustom Kulture Festival

Leave a Reply