Kemerdekaan Kustom Kulture Indonesia

Catatan Semangat Kemerdekaan dan Inspirasi Kustom Kulture Indonesia 

Enam puluh delapan tahun silam Soekarno-Hatta membacakan naskah proklamasi yang diakui dunia sebagai tonggak berdirinya Republik Indonesia. Negara ini lahir dari  tetesan darah perjuangan para pahlawan yang memimpikan kemerdekaan mutlak, supaya negeri ini mendapat pengakuan untuk sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia. Budaya Kustom sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia sejak dahulu kala, kekayaan  budaya dan tekad kuat sebagai bangsa yang besar melahirkan karya kustom yang luar biasa seperti : arsitektural candi, ukiran, body art, seni pahat, kriya logam, kapal pinisi, rumah adat serta ragam corak dan motif .

Sebuah ironi melihat kondisi saat ini, di saat Indonesia menjadi ceruk market yang besar bagi pelaku industri kapitalis, bangsa ini hampir saja melupakan identitasnya. Masyarakat ramai “berjuang” untuk membela dan membeli produk impor, sementara produk Indonesia nampak dikurung dalam iklim kompetisi perdagangan global. Dukungan pemerintah hanyalah sebatas ucapan dan janji janji kampanye, karena pejabat pemerintah sibuk “menjual” diri , partai dan golongan masing-masing. Banyak pejabat yang lazimnya disebut “oknum” larut dalam “memperjuangkan” kepentingan tertentu, hingga menjerumuskan masyarakat dalam karakter budaya membeli dan melupakan budaya untuk berproses, merancang dan membangun .

Sumber kekayaan alam melimpah ruah yang seharusnya dikuasai oleh negara, dijual oleh  oknum pemerintah dengan dalih investasi pembangunan, namun faktanya aset aset itu tak pernah dimiliki kembali. Jalanan Indonesia dilindas oleh keangkuhan raksasa industri yang mengalahkan kualitas dan pengembangan pembangunan jalan itu sendiri. Seandainya Daendels masih hidup mungkin akan berujar “Sekejam-kejamnya saya merintis Anyer-Panarukan ternyata pemerintah Indonesia lebih kejam,  karena tega “memakan” aspal sehingga jatuh lebih banyak korban”.

Kustom kulture lahir dari pemikiran dan proses yang jujur sebagaimana diungkapkan oleh pendiri bangsa Mohammad Hatta  “Tak ada harta pusaka yang sama berharganya dengan kejujuran”. Ungkapan sederhana namun memiliki makna yang mendalam, kita tak boleh kehilangan identitas kejujuran dalam berkarya dan menghargai karya. Seringkali konflik kepentingan bisnis, kompetisi dan pencitraan membutakan kita akan  potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak-anak negeri.

Seberapa besar dampak kustom kulture terhadap Indonesia? Itu pertanyaan yang terus berkecamuk dalam pikiran, sejak menggulirkan KUSTOMFEST Indonesian Kustom Kuture Festival kami sadar sepenuhnya ini adalah perjuangan yang berat dan harus bersama-sama terus diperjuangkan. Budaya kustom bukanlah sekedar trend sesaat dan euforia instan  semata, melainkan ruh dan jiwa Indonesia sebagai bangsa yang mampu merancang dan membuat dengan segala konsekuensi proses yang mengedepankan estetika dan kejujuran. Hingga pada akhirnya segala proses ini akan menumbuhkan sikap bangga dan apresiatif terhadap karya.

Masyarakat Indonesia bukan tidak berbuat sama sekali, namun setiap ada penemuan dan proses pemerintah nampak menutup mata. Dukungan akan diberikan jika ada imbal balik sesuai, yang berujung kepada pencitraan semata. Apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka ?, itulah pertanyaan yang selalu didengungkan tiap jelang peringatan kemerdekaan. Namun jawaban yang nampak hanyalah sampah visual wajah pejabat yang memadati sudut sudut kota dengan baliho “narsis” yang mengganggu pandangan.

Alangkah indahnya di dalam peringatan kemerdekaan Indonesia kita benar-benar dimerdekakan dan mensejajarkan diri diakui dalam perkembangan global, hingga suatu hari nanti masyarakat ramai saling bertanya dan berujar “Kalau beli knalpot bikinan made berapa ya ? , Tato karya kang asep bagus lho .., Angelian Jolie saja kemarin bikin  ! , Wah rangka motor buatan mas darman diekspor ke eropa .., eh .. Ucok kemarin habis dapet order painting dari Taiwan ! ” pertanyaan dan ungkapan sederhana yang semoga segera terwujud, seiring dengan kerinduan masyarakat untuk berbangga terhadap karya yang dibuat di Indonesia, melalui proses dan pemikiran panjang oleh orang Indonesia.  Dirgahayu ke 68 Kemerdekaan Republik Indonesia, selamat berproses menyambut KUSTOMFEST 2013 5.6 Oktober 2013 , Jogjakarta – Indonesia. Salam Kustom, Salam Respect.

Indonesian Kustom Kulture Festival

Leave a Reply